UNGARAN, Jurisinvestigasi.com — Kekhawatiran terhadap rencana pengembangan energi panas bumi (geothermal) di kawasan Gunung Ungaran dan Telomoyo mendorong sejumlah elemen masyarakat Jawa Tengah membentuk Aliansi Penyelamat Gunung Ungaran dan Telomoyo.
Sekitar 100 orang yang terdiri dari aktivis, organisasi masyarakat (ormas), budayawan, pengamat lingkungan, pendaki gunung hingga mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) berkumpul di kediaman Havid Sungkar, S.H., M.H., Jalan Slamet Riyadi 10 A, Ungaran, dalam agenda konsolidasi sekaligus pembentukan kepengurusan aliansi.
Dalam forum tersebut, peserta menyampaikan berbagai kekhawatiran terkait rencana pengeboran geothermal di kawasan pegunungan. Persoalan yang menjadi perhatian antara lain potensi dampak terhadap lingkungan, sumber mata air, ekosistem, lahan pertanian serta kehidupan masyarakat yang berada di sekitar kawasan Gunung Ungaran dan Telomoyo.
Havid Sungkar Terpilih sebagai Ketua
Dalam proses pemilihan ketua, tiga nama diajukan sebagai kandidat, yakni Budi GJL, Ndaru dari Sumowono, dan Havid Sungkar dari Ungaran.
Setelah melalui proses pemilihan, Havid Sungkar akhirnya dipercaya memimpin Aliansi Penyelamat Gunung Ungaran dan Telomoyo.
Havid diketahui merupakan penggiat gerakan antinarkoba sekaligus Ketua Geram Jateng. Selain itu, ia berprofesi sebagai advokat dan merupakan warga yang lahir serta besar di Ungaran.
Kedekatan dengan kawasan tersebut menjadi salah satu alasan dirinya menilai persoalan Gunung Ungaran bukan hanya berkaitan dengan isu lingkungan, tetapi juga menyangkut kehidupan masyarakat setempat.
Dalam forum, Havid menyampaikan bahwa dirinya memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menjaga kawasan Gunung Ungaran dan menyuarakan kepentingan masyarakat yang terdampak oleh setiap kebijakan terkait kawasan tersebut.
Penolakan Geothermal Disebut Bukan Anti-Pembangunan
Aliansi menyatakan sikap menolak rencana geothermal. Namun, mereka menegaskan bahwa penolakan tersebut tidak dimaksudkan sebagai bentuk penolakan terhadap pembangunan maupun pengembangan energi baru dan terbarukan secara keseluruhan.
Yang menjadi perhatian utama adalah dampak apabila kegiatan eksplorasi dan pengeboran geothermal dilakukan di kawasan pegunungan.
Aliansi mempertanyakan potensi dampaknya terhadap keberadaan sumber mata air, hutan, ekosistem, lahan pertanian, serta kehidupan masyarakat yang selama ini bergantung pada kondisi alam di kawasan tersebut.
Menurut mereka, Gunung Ungaran tidak semata-mata memiliki nilai dari sisi potensi energi. Kawasan tersebut juga memiliki fungsi ekologis, sosial, ekonomi dan budaya bagi masyarakat.
Karena itu, mereka meminta pemerintah mempertimbangkan aspek lingkungan dan kepentingan masyarakat secara menyeluruh, tidak hanya dari perspektif investasi dan ketahanan energi.
Minta Keterbukaan Informasi dan Ruang Dialog
Selain persoalan lingkungan, komunikasi antara pemerintah dan masyarakat menjadi salah satu sorotan dalam pertemuan tersebut.
Aliansi menilai masyarakat membutuhkan informasi yang terbuka mengenai rencana pengembangan geothermal, termasuk kajian mengenai potensi dampak terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.
Mereka juga mendorong agar pemerintah membuka ruang dialog yang lebih luas dengan masyarakat, akademisi, pemerhati lingkungan serta pihak-pihak terkait sebelum tahapan proyek berjalan lebih jauh.
Siapkan Audiensi dengan Pemkab Semarang dan Pemprov Jateng
Sebagai langkah awal setelah terbentuknya kepengurusan, Aliansi Penyelamat Gunung Ungaran dan Telomoyo berencana melakukan audiensi dengan Pemerintah Kabupaten Semarang dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Audiensi tersebut diharapkan menjadi forum dialog untuk menyampaikan aspirasi masyarakat sekaligus meminta penjelasan pemerintah mengenai rencana pengembangan geothermal di kawasan Gunung Ungaran dan Telomoyo.
Selain audiensi, aliansi juga berencana menggalang petisi sebagai bentuk penyampaian aspirasi masyarakat yang menolak rencana pengeboran geothermal.
Petisi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan pemerintah dalam menentukan kebijakan terkait masa depan kawasan pegunungan tersebut.
Masyarakat Minta Tidak Sekadar Menjadi Penonton
Di tengah kebutuhan Indonesia terhadap sumber energi baru dan terbarukan, panas bumi merupakan salah satu sumber energi yang memiliki potensi strategis.
Namun, menurut aliansi, pengembangan energi tetap perlu mempertimbangkan karakteristik wilayah yang menjadi lokasi proyek, terutama apabila berada di kawasan yang memiliki fungsi ekologis dan menjadi sumber kehidupan masyarakat.
Mereka berharap sikap kritis masyarakat tidak serta-merta dianggap sebagai bentuk anti-pembangunan. Sebaliknya, aspirasi tersebut dinilai perlu ditempatkan sebagai bagian dari kontrol sosial agar setiap kebijakan pembangunan berjalan secara transparan dan mempertimbangkan kepentingan masyarakat.
Bagi masyarakat yang tergabung dalam aliansi, Gunung Ungaran bukan sekadar kawasan pegunungan. Di dalamnya terdapat sumber mata air, hutan, lahan pertanian, aktivitas pendakian, nilai budaya serta kehidupan masyarakat yang bergantung pada keseimbangan lingkungan.
Dengan terbentuknya Aliansi Penyelamat Gunung Ungaran dan Telomoyo, masyarakat kini mulai mengonsolidasikan langkah untuk menyampaikan sikap dan kekhawatiran mereka kepada pemerintah.
Mereka berharap rencana pengembangan geothermal dapat dibahas secara terbuka dan setiap potensi dampak terhadap lingkungan maupun masyarakat dapat dijelaskan secara transparan.
Bagi aliansi, setiap rencana pengeboran di kawasan Gunung Ungaran dan Telomoyo harus terlebih dahulu mampu menjawab kekhawatiran masyarakat mengenai keselamatan lingkungan, keberlangsungan sumber air, serta masa depan kawasan pegunungan tersebut.







