JAKARTA, Juriinvestigasi.com — Nilai-nilai kehidupan dalam budaya Jawa kembali diangkat sebagai landasan dalam membangun kebersamaan dan hubungan sosial. Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Dulur Sikep Nyawiji, Sariyono, melalui filosofi Jawa “Urip ya Urup”, Rabu (16/9/2026).
Sariyono mengatakan, semboyan tersebut tidak sekadar memiliki makna budaya, tetapi juga mengandung pesan sosial mengenai pentingnya menjalani kehidupan dengan memberikan manfaat bagi lingkungan dan sesama.
Menurutnya, nilai kejujuran, kasih sayang, kepedulian terhadap sesama, serta perilaku yang baik merupakan bagian penting dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis.
Pesan tersebut, kata Sariyono, tercermin dalam ungkapan “Jujur lan tresna marang sepadha-padha”, yang mengandung ajaran untuk senantiasa berkata dan bertindak jujur sekaligus menumbuhkan rasa kasih sayang serta kepedulian terhadap orang lain.
Selain itu, terdapat pula ungkapan “ngugemi laku utami” yang bermakna memegang teguh perilaku utama atau kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara “ngudi tentreming ati” menjadi pesan untuk menjaga ketenteraman hati. Nilai tersebut dinilai penting agar hubungan antarsesama dapat terjalin dengan baik dan menciptakan kehidupan yang harmonis.
Sariyono menuturkan, nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari identitas Dulur Sikep Nyawiji yang mengedepankan semangat kebersamaan dan etika dalam kehidupan bermasyarakat.
Ia menilai, filosofi “Urip ya Urup” dapat menjadi pengingat bagi setiap individu untuk tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, tetapi juga berupaya menghadirkan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
Dengan demikian, semboyan tersebut memiliki makna yang lebih luas, yakni menjadi pesan moral agar kehidupan bersama dibangun atas dasar kejujuran, kasih sayang, perilaku baik, serta ketenteraman hati.
“Urip ya Urup, jujur lan tresna marang sepadha-padha, ngugemi laku utami, ngudi tentreming ati,” ujar Sariyono yang akrab disapa Uceng.







