Fenomena “Hidup Pura-Pura” di Era Digital Jadi Sorotan, Muhammadiyah Dorong Dakwah Humanis dan Solutif

- Kontributor

Minggu, 5 Juli 2026 - 21:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Semarang, Jurisinvestigasi.com – Pemerhati sosial menyoroti fenomena “hidup pura-pura” dan “bahagia pura-pura” yang kian berkembang di tengah masyarakat modern seiring pesatnya penggunaan media sosial. Fenomena tersebut dinilai mencerminkan kecenderungan masyarakat membangun citra kehidupan yang tampak sempurna di ruang digital, meski tidak selalu sesuai dengan kondisi nyata yang dialami.

Dalam kajian yang disampaikan, dijelaskan bahwa masyarakat kini tidak hanya menjalani kehidupan nyata, tetapi juga membentuk identitas simbolik melalui media sosial. Berbagai unggahan mengenai kebersamaan, kemewahan, kesuksesan, hingga kebahagiaan sering dijadikan tolok ukur pengakuan sosial. Padahal, di balik tampilan tersebut tidak sedikit individu yang menghadapi tekanan ekonomi, konflik keluarga, kecemasan, kesepian, hingga kehilangan arah hidup.

Secara psikologis, fenomena tersebut dipengaruhi oleh kebutuhan manusia akan penerimaan dan penghargaan sosial. Mengacu pada teori kebutuhan Abraham Maslow, kebutuhan akan pengakuan pada era digital bergeser menjadi kebutuhan memperoleh validasi melalui jumlah pengikut, tanda suka, komentar, maupun pujian. Kondisi ini mendorong sebagian orang membangun citra diri yang tidak autentik demi mendapatkan pengakuan dari lingkungan.

Selain itu, masyarakat dinilai berada di antara pola pikir rasional dan irasional. Pola pikir rasional mempertimbangkan fakta, nilai moral, dan dampak jangka panjang sebelum mengambil keputusan. Sebaliknya, pola pikir irasional lebih dipengaruhi emosi, gengsi, tekanan sosial, dan keinginan tampil lebih unggul. Akibatnya, muncul perilaku berpura-pura kaya, sukses, atau bahagia untuk menutupi rasa rendah diri maupun berbagai persoalan pribadi.

Dalam perspektif Islam, kejujuran, kesederhanaan, dan keselarasan antara hati, ucapan, serta perbuatan menjadi nilai utama. Kebahagiaan sejati diyakini tidak berasal dari pencitraan, melainkan dari keimanan, rasa syukur, ketenangan jiwa, dan amal kebaikan. Nilai tersebut diperkuat dengan firman Allah dalam QS Ar-Ra’d ayat 28 yang menyebutkan bahwa hati akan menjadi tenteram dengan mengingat Allah.

Baca Juga:  Dugaan Praktik Jual Beli Hak Hunian Rusunawa di Kota Semarang Disorot, Penghuni Minta Keadilan

Fenomena tersebut juga dinilai berkaitan dengan berkembangnya budaya konsumtif dan kompetitif di kalangan generasi digital. Perbedaan antara kebutuhan dan keinginan semakin kabur sehingga banyak orang terdorong mengejar gaya hidup mewah dan pengakuan sosial, meski harus mengorbankan kondisi ekonomi maupun kesehatan mental.

Di sisi lain, persoalan sosial seperti komunitas marginal, dunia hiburan malam, penyalahgunaan zat, eksploitasi seksual, hingga krisis identitas dinilai memerlukan pendekatan yang lebih manusiawi. Pendekatan berupa dialog, pendampingan psikologis, penguatan keluarga, pendidikan moral, pembinaan spiritual, serta perlindungan dari kekerasan dinilai lebih efektif dibandingkan stigma maupun pengucilan.

Melihat kondisi tersebut, peran Lembaga Dakwah Komunitas Muhammadiyah di berbagai tingkatan dinilai semakin penting. Dakwah tidak cukup hanya dilakukan melalui ceramah di mimbar, tetapi juga harus diwujudkan dalam bentuk pendampingan, konseling, pemberdayaan ekonomi, advokasi sosial, pendidikan keluarga, dan pembinaan komunitas yang menyentuh langsung kelompok-kelompok rentan di masyarakat.

Melalui pendekatan dakwah yang humanis, santun, namun tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam, Muhammadiyah diharapkan mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan sosial. Dakwah tidak hanya berfungsi mengingatkan atau mengkritik kemungkaran, tetapi juga menjadi jalan pemberdayaan agar masyarakat dapat hidup lebih jujur, sehat, bermartabat, dan meraih kebahagiaan yang nyata, bukan sekadar pencitraan di ruang digital.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel jurisinvestigasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dua Tahun Prabowo–Gibran, Dr. H. AM Jumai Ajak Masyarakat Rawat Persatuan dan Kawal Pembangunan
Mantapkan Kesiapan Hadapi TKA, MAN 1 Palembang Gelar Gladi bagi 333 Murid Kelas XII
Pererat Kemitraan dengan Pemkab Pati, SMSI Gelar Audiensi dengan Diskominfo
Korban Alami Luka Serius dan Mobil Innova Rusak, Keluarga Mendesak Pengusutan Menyeluruh atas Peristiwa di Depan Lotte Mart Gayamsari
Diduga Meminta Sejumlah Uang, Dua Anggota Polda Jambi di Laporkan Divpropam Polri
FKSB Kota Semarang Sukses Gelar Rakor, Tetapkan Tahapan Pemilihan Ketua Baru
Sambut HUT TNI ke-81 dan HUT Kodam IV/Diponegoro ke-76, TNI-Polri dan Warga Gelar Kerja Bakti Bersihkan Sungai.
Fasilitas Desa Dipertanyakan! Mobil Siaga Sarabau Diduga Dipakai untuk Belajar Nyetir
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 12:27 WIB

Dua Tahun Prabowo–Gibran, Dr. H. AM Jumai Ajak Masyarakat Rawat Persatuan dan Kawal Pembangunan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 20:21 WIB

Mantapkan Kesiapan Hadapi TKA, MAN 1 Palembang Gelar Gladi bagi 333 Murid Kelas XII

Rabu, 14 Oktober 2026 - 13:02 WIB

Pererat Kemitraan dengan Pemkab Pati, SMSI Gelar Audiensi dengan Diskominfo

Rabu, 14 Oktober 2026 - 08:12 WIB

Korban Alami Luka Serius dan Mobil Innova Rusak, Keluarga Mendesak Pengusutan Menyeluruh atas Peristiwa di Depan Lotte Mart Gayamsari

Senin, 12 Oktober 2026 - 16:46 WIB

Diduga Meminta Sejumlah Uang, Dua Anggota Polda Jambi di Laporkan Divpropam Polri

Berita Terbaru

NASIONAL

Rabu, 14 Okt 2026 - 12:56 WIB