SEMARANG, Jurisinvestigasi.com — Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) di Kota Semarang dinilai tidak sekadar menjadi ajang perlombaan keagamaan, tetapi juga momentum strategis untuk memperkuat syiar Islam, membangun karakter masyarakat, serta mendorong penerapan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sosial, pemerintahan, ekonomi, kebudayaan, hingga pembangunan bangsa.
Pandangan tersebut disampaikan Dr. KH. AM. Juma’i, S.E., M.M., Ketua Lembaga Dakwah Komunitas PWM Jawa Tengah sekaligus Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah.
Menurutnya, posisi Kota Semarang sebagai ibu kota Provinsi Jawa Tengah memberikan keunggulan tersendiri dalam penyelenggaraan MTQ. Kota ini memiliki masyarakat yang beragam serta menjadi ruang perjumpaan berbagai komunitas dan kekuatan sosial.
Keberagaman tersebut, kata Juma’i, harus dikelola secara bijaksana agar menjadi kekuatan untuk memperkokoh persatuan, bukan justru menjadi sumber perpecahan.
“MTQ di Kota Semarang bukan sekadar sebuah perhelatan keagamaan. Kehadirannya menjadi momentum penting untuk memperkuat syiar Islam sekaligus membangun kesadaran bersama bahwa Al-Qur’an harus hadir dalam kehidupan masyarakat, pemerintahan, ekonomi, kebudayaan, dan pembangunan bangsa,” ujarnya.
Kehadiran para menteri, gubernur dari sejumlah provinsi, tokoh agama, tokoh masyarakat, kafilah, serta masyarakat luas dalam rangkaian pembukaan MTQ disebut menunjukkan bahwa Semarang mampu menjadi ruang kebersamaan dan perjumpaan berbagai elemen bangsa.
Meski Presiden dan Wakil Presiden tidak hadir dalam pembukaan, kemeriahan acara tetap berlangsung. Pawai ta’aruf, ekspresi seni dan budaya, serta parade pelantunan Mars MTQ menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang mendapat perhatian masyarakat. Parade tersebut bahkan disebut memperoleh rekor MURI.
Namun, Juma’i menilai capaian tersebut tidak seharusnya menjadi tujuan utama penyelenggaraan MTQ. Menurut dia, kemeriahan dan rekor harus diikuti dengan gerakan nyata yang mencerminkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
“Al-Qur’an tidak membutuhkan rekor untuk menunjukkan kemuliaannya. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an diterjemahkan menjadi perilaku dan gerakan nyata,” katanya.
Ia menegaskan, semangat dakwah amar ma’ruf nahi mungkar harus menjadi salah satu hasil penting dari penyelenggaraan MTQ. Dakwah, menurutnya, harus mampu mencerahkan, mencerdaskan, menggembirakan, dan menggerakkan umat.
Karena itu, setelah seluruh rangkaian MTQ berakhir, diperlukan tindak lanjut berupa gerakan sosial yang mendorong terbentuknya masyarakat yang berakhlak, adil, toleran, produktif, serta menjauhi berbagai bentuk kemungkaran.
Menurut Juma’i, semakin kuat nilai-nilai Al-Qur’an diterapkan dalam kehidupan masyarakat, maka berbagai persoalan sosial seperti kezaliman, kemunafikan, dan perilaku menyimpang diharapkan dapat semakin ditekan.
Sinergi Ulama dan Umara
Dalam konteks tersebut, keterlibatan MUI Jawa Tengah dalam rangkaian aktivitas MTQ dinilai memiliki arti strategis. Kolaborasi antara ulama dan umara disebut menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang tidak hanya maju secara material, tetapi juga memiliki landasan moral dan spiritual.
Sinergi tersebut, menurut Juma’i, dapat menjadi teladan bahwa pembangunan daerah dan bangsa tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan birokrasi. Pembangunan juga membutuhkan panduan moral, spiritual, serta keagamaan dari para ulama dan tokoh masyarakat.
“Pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan birokrasi, tetapi membutuhkan panduan moral, spiritual, dan keagamaan,” ungkapnya.
Selain aspek keagamaan dan sosial, penyelenggaraan MTQ juga dinilai memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat. Mobilitas kafilah dan penggembira dari berbagai daerah menciptakan aktivitas ekonomi di sejumlah sektor, mulai dari kuliner, perhotelan, transportasi, perdagangan hingga usaha masyarakat lainnya.
Dengan demikian, MTQ dinilai mampu menciptakan ekosistem yang mempertemukan kepentingan syiar keagamaan dengan pemberdayaan ekonomi umat.
Juma’i juga menekankan pentingnya menghadirkan suasana kebatinan yang kuat dalam penyelenggaraan MTQ. Menurutnya, nilai-nilai Al-Qur’an memiliki keselarasan dengan nilai luhur Pancasila, mulai dari Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, hingga keadilan sosial.
Nilai tersebut, kata dia, semestinya tidak hanya menjadi slogan, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata oleh para pemimpin, pejabat, maupun seluruh pihak yang berada di sekitar pusat kekuasaan.
“Dari MTQ di Semarang, mari kita bangun Indonesia yang cerah, berakhlak, bersatu, adil, dan maju berkemajuan,” pungkasnya.
Dengan demikian, MTQ di Kota Semarang diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial maupun kompetisi tilawah semata, tetapi mampu meninggalkan warisan berupa penguatan dakwah komunitas, peningkatan akhlak masyarakat, penguatan persatuan, serta pemberdayaan ekonomi umat yang berkelanjutan.







